Minggu, 15 Juli 2018

Kenapa


Oleh Hiday Nur

Kenapa…Aku bertanya tanyaLewat puisi yang tak bernamaKenapa manusia tak pernah lagi bertanya mengapaMengapa kenapa aus ditelan emosi masakesejatian ada karena bertanya kenapaMempertanyakan alasan kenapa dunia hadirMerenungi kenapa dunia menghadirkanMenginsafi kenapa bumi tak henti memutar roda kematian dan kehadiranKata mengendap dalam relung guaMemaknai kenapa yang terus berulangNamun laksana kata yang berumurKenapa, telah menjadi tua dan lanjut usiaTerlupakan dan terpinggirkanOleh gemerlap dian yang mencekik peradaban


Sumber gambar : https://id.pinterest.com/pin/561964859745039139/

Diantara Karang dan Kamu



Oleh : Wiwid Nurwidayati

Akan selalu ada airmata jika menatap birunya ombak yang menerjang karang di antara senja yang sedang memerah.  Semakin menyayat ketika senja itu di hiasi hujan dan badai laut yang membuatku ingin memutar waktu. Akankah Tuhan berbaik hati menawarkan padaku untuk memberikan satu permintaan yang akan mengembalikan kepada waktu yang ku inginkan? Namun waktu begitu cepat bergulir, pagi, siang, senja, malam, hujan, pantai dan badai.

Mungkin hanya hobi yang mempertemukan kita. Diantara kesunyian waktu yang berjalan, kita saling berbincang. Jangan pernah lupakan perkenalan kita, pertemuan di titik rapuh. Ketika itu kamu adalah seorang laki-laki perangkai kata yang sempurna menurutku. Sedang aku, kualitas tulisanku sedang sekarat, di bawah garis kemiskinan sastra. Kita bertemu di dunia maya, merangkai cerita yang sama yang mungkin akan terasa membosankan jika di tuliskan dimajalah-majalah beken sekalipun. Dan kita hanya tertawa menikmatinya.

Disuatu senja akhirnya kita bertatap muka. Di antara karang-karang terjal yang tegak berdiri dan rumput hijau yang tumbuh diantaranya. Kamu datang dengan jaket kulit coklatmu. Rambut gondrong yang menyembul di ujung topi rajut wool mu. Tubuhmu terbilang kurus, dengan kulit coklat bersih. Hingga kemudian kita lebih sering menghabiskan akhir minggu di sini. Diantara deburan ombak yang menghempas tebing. Dan lautan biru yang membentang luas di hadapan kita.

Kita duduk di bawah pohon yang daunnya sudah jatuh berguguran, ranting yang mengering. Namun tetap kokoh berdiri di tepi tebing yang curam. Satu-satunya pohon yang berdiri di tepi tebing itu. Aku hanya menatapmu waktu itu tak mengerti. Diantara deburan ombak yang menghantam batu karang kau menunggu ikan kakap melahap umpanmu, oh tidak mungkin ikan barracuda atau ikan cucut, kau habiskan waktu membaca novel itu. Ternyata aku tahu kini, novel itu yang telah membuatmu seperti sekarang. Tulisan yang semakin matang dan ide yang selalu mengalir seperti aliran sungai yang tak berhenti.

“Tulisanmu semakin keren, Kun,” ucapku padamu ketika kau melepaskan ikan cucut yang memakan umpan kailmu.

            “Aha, tulisanmu juga semakin matang,” ujarmu ringan tanpa menoleh ke arahku sedikitpun.
Senja mulai beranjak malam. Kita memutuskan untuk pulang. Menuruni jalan tanah setapak perlahan. Jalan setapak dan terjal untuk menuju tempat parkiran. Senja yang menghilang adalah awal cerita denganmu.
##
Kali ini kita tidak menghabiskan waktu di atas tebing curam. Satu malam pada sebuah pertemuan yang kupaksakan. Kau mulai sibuk dengan profesi barumu. Mengajar di sebuah universitas swasta, mengambil kelas pagi dan malam, juga kelas ekstensi di akhir minggu. Tak banyak lagi waktu bagi kita untuk menghirup aroma angin laut yang menyejukkan jiwa.

Kau paksa aku untuk mengikuti jejakmu masuk pada sebuah tenda warung kopi langgananmu.
“Dua kopi Bang,” ucapmu pada pemilik warung.

“Malam ini kau harus belajar minum kopi, disitu akan kau rasakan rasa manis di antara rasa pahit di dalamnya. Sesaplah perlahan, temukan filosopi dari kopi itu sendiri,” ujarmu padaku sebelum aku protes. Kau tahu aku lebih suka dengan susu coklat hangat. Namun mata teduhmu meluruhkan hatiku. Kata-katamu seolah perintah, yang selalu tak bisa ku bantah.

“Kopi itu seperti saat memancing ditengah lautan. Ketika kita melakukannya hanya untuk membahagiakan dan melepaskan hati kita. Mungkin terkadang badai tiba-tiba datang, namun kita tetap merasa bahagia. Diantara jantung kita yang berdegub hebat melihat air laut dan angin yang seolah sedang bersatu padu membangun kekuatan untuk menggoyahkan kebahagiaan kita.

“Ah, filosofimu terlalu tinggi Kun,” ujarku padamu sambil tertawa.

“Benar itu, suatu hari nanti akan ku ajak kau untuk menikmati badai,” ujarmu sebelum kau menyesap tetes terakhir dari segelas kopi hitam itu.

“Benarkah,” mataku berbinar mendengar janjimu. Kau hanya mengangguk.

##

Siang di minggu akhir Desember kita berkemas. Dua joran pancing andalanmu telah kau siapkan. Seember umpan yang berisi hewan laut segar pun telah siap. Ada ikan kembung, ikan tongkol, cumi, udang ataupun gurita.  Dua tenda camping tak lupa kita siapkan. Malam ini kita akan menghabiskan malam di tepi lautan sambil memancing. Malam yang pekat tanpa purnama. Katamuu ketika malam pekat tanpa purnama, ikan-ikan besar akan senang memakan umpan kita.

“Aku akan mengajakmu menikmati badai,” ujarmu diantara kesibukanmu mengemas barang.

“Kamu yakin badai datang malam ini?” tanyaku sedikit ketakutan.

“Hahahaha. Hanya intuisi seorang pemanjing. Kita akan bertemu dengan badai. Tetapi biasanya dibulan-bulan Desember atau Januari, atau bulan Maret. Bulan-bulan dimana curah hujan semakin tinggi, badai bisa datang kapan saja.”

“Kita tidak peru berlayar di tengah lautan, bukan?” tanyaku meyakinkan diri.

“Tidak. Aku tak akan membiarkanmu mati ketakutan ditengah lautan,” jawabmu serius.

Bibirku menyunggingkan senyum atas jawabanmu. Aku baru menyadari, kau yang selama ini selalu hemat kata-kata dalam berucap. Kini kau bisa panjang lebar berkata-kata, jika semuanya tentang hobi memancingmu. Melihat barang-barang yang kau siapkan sebelum memancing, aku berdecak kagum. Sepertinya tak pernah ada kata sayang menghabiskan sebagian gajimu untuk memenuhi kebutuhan memancing. Seperti saat menghasilkan tulisan, semua kau persiapkan dengan sebaik-baiknya.

Kita hampir mendekati tempat tujuan, ketika matahari sudah mulai berjalan menuju peraduanya. Jalan setapak yang sepi tanpa aspal. Kemudian berbelok kiri ke jalan sempit yang terjal, namun kau sudah terlihat begitu terbiasa melewati  jalan ini dengan variomu. Hembusan angin laut sudah membelai pipiku. Hingga kemudian sebuah pemandangan indah terbentang di depan mata.

Kita berada sekitar dua meter di atas tebing . Rumput hijau menghampar. Di ujung batas cakrawala, senja yang memerah memendarkan cahaya keemasan di laut.

“Kita ke bukit yang kecil itu,” katamu sambil menunjuk bukit kecil yang menjorok ke laut di sebelah selatan dari tempat kita berdiri. Langkah kaki kita melewati pantai berpasir putih, jalanan sedikit mendaki dan hanya jalan setapak. Hatiku sedikit menggigil ketakutan, menapaki jalan yang benar-benar hanya setapak. Setiap jengkal yang ku pijak adalah jalan penuh bebatuan licin.  Ombak menghempas tebing yang jaraknya hanya satu meter dibawah kami berjalan. Sesekali buihnya menyapa kulit kakiku.

Kau berjalan di depanku dengan tenang. Ku pegang tas ransel yang berisi peralatan memancig kita. Dua temanmu berjalan di belakangku dengan tenang. Hatiku bernafas lega ketika akhirnya kaki kita menapak puncak bukit dengan rerumputan hijau.

            Kita menghirup udara segar disini. Melepaskan segala ketegangan yang sempat ku lewati. Pemandangan alam yang sangat indah, diujung cakrawala matahari beradu dengan ujung permukaan laut. Seolah sedang berbisik dan memberi salam kepada alam jika dia hendak beristirahat untuk sementara waktu.

Kau tengok jam di pergelangan tanganmu, kita bergegas merapatkan shaft. Kita dalam sunyi, hanya deburan ombak dan angin laut yang menerbangkan ujung mukenaku seolah menjadi backsound atas kepasrahan kita dalam menghadapNya.

Kita mulai menuruni bukit mendekat ke tebing laut. Jalan setapak dengan batu karang yang agak licin. Tangan kananmu membawa joran pancing sedang tangan kirimu membawa seember hewan laut utuk umpan.

Aku duduk agak sedikit menjauh di belakangmu, malam mulai merangkak. Di langit bintang bertaburan, langit begitu cerah malam itu. Joran pancing kau selipkan di antara batu-batu karang, hingga bisa berdiri tegak tanpa kau pegang. Kemudian kau mundur dan duduk di sebelahku. Kita semua hanya terdiam, di kesunyian malam menikmati semesta.  Dalam keremangan lampu tanah kupandang wajahmu yang sedikit tirus. Ada binar kebahagiaan di sana. Inilah duniamu yang kedua, dunia rangkaian kata adalah dunia mu yang pertama.

“Aku tak tahu apakah bisa menikmati malam seperti ini lagi di sini, bersamamu,” ucapmu tiba-tiba membelah kesunyian. Namun nadanya terdegar aneh di telingaku.

“Kenapa bilang begitu?” tanyaku.

“Hanya intuisi saja. Rasanya kamu akan semakin jauh nanti.”

Aku hanya melongo mendengar pernyataanmu. Sebuah pertanyaan ku lempar padamu untuk menghilangkan rasa gundah atas pernyataanmu.

“Hmm, mengapa suka memancing?” tanyaku

“Memancing akan melatih kesabaran. Terkadang kita sudah duduk berjam-jam tetapi tidak ada satu ikan pun yang memakan umpan kita. Begitulah hidup. Seperti dalam menulis, kita pun terkadang kehabisan ide. Kita mungkin lebih sering berputus asa, ketika naskah kita berkali-kali tidak layak muat di koran atau majalah. Berkali-kali ditolak penerbit. Tetapi suatu saat nanti akan ada massa ke emasan dalam hidup kita.”

Aku mengangguk-angguk menyetujui setiap katanya.
“Juga latihan pantang menyerah di keadaan paling sulit. badai. Disana kita sekuat tenaga untuk mempertahankan diri agar selamat.”

Tiba-tiba langit berubah pekat. Kilat mulai terlihat membelah laut tanpa henti. Sungguh Indah namun sekaligu menyeramkan. Kau berjalan mendekat kearahku,  mengatakan jika kemungkinan badai sebentar lagi datang. Kita kemudian naik sebentar ke tenda mengambil mantel hujan dan segera mengenakannya.

Hujan sisertai angin kencang. Ombak semangkin kuat menghempas karang. Petir menyambar-nyambar tiada henti. Suaranya begitu menggelegar. Aku semakin menggigil di antara ketakutan dan kedinginan. Dua temanmu sudah naik ke tenda.

Kau pun mengajakku ke tenda. Umpan dan ikan yang termakan umpanmu kau bawa serta. Namun joran pancingmu yang masih tertancap di antara karang, kau tinggalkan disana.

Aku menatapmu menuruni bukit untuk mengambil joran yang kau tinggalkan di tepi tebing. Ombak tinggi, hujan lebat di sertai dengan angina kenncang menyambutmu. Siluet badanmu masih kulihat membungkuk diantara petir yang bersahut-sahutan membelah permukaan laut.

Sekedip mata, tak ku lihat bayangmu lagi. Aku terkesiap. Aku berteriak memanggil namamu. Namun suara gelegar petir mengalahkankannya. Aku masih berteriak memanggil namamu. Dua temanmu ikut turun mencarimu. Namun bayangmu tetap tak terlihat. Kau lenyap seketika.

Serak suaraku habis memanggil namamu. Airmataku luruh bersama hujan badai yang membasahi tubuhku. Aku hanya bisa tergugu.
            “Kun, dimana kau kini?”. (end)


Sumber gambar : http://weart.co/v2/wp-content/uploads/2016/05/WE_ART_LINA_EKSTRAND_10.jpg




Tentang Nulis Aja Community


Komunitas Nulis Aja ini bergerak dalam bidang pendampingan kepenulisan dan penerbitan baik secara internal kepada anggota maupun eksternal kepada masyarakat Indonesia di dunia maya tanpa batas wilayah dan usia.

Dengan tagline “Karena Idemu Terlalu Berharga”mengajak siapa saja menuliskan ide ataupun gagasan yang ada di kepala.

Komunitas Nulis Aja didirikan pada tanggal 6 bulan Desember tahun 2017 oleh Hiday Nur (Tuban, Jawa Timur) sebagai founder dan Wiwid Nurwidayati (Batam) serta M. septian Wijaya (Subang, Jawa Barat) sebagai co-founder.

Tujuan komunitas ini adalah menjadi bagian dari kegiatan literasi di Indonesia dengan melakukan fasilitasi untuk mampu dan menjadi gemar menulis, dari nol hingga menerbitkan buku.

Visi dari Komunitas ini adalah menjadi fasilitator kepenulisan bagi masyarakat umum dari nol hingga terbit buku.

Misi dari Komunitas ini adalah:
     Mendorong kebiasaan menulis melalui forum diskusi dan free-writing-room di  media online.
     Menjadi salah satu sumber informasi kepenulisan, sekolah menulis online dan penerbitan.
     Membangun jejaring antara penulis, pembaca, dan penerbit buku.


KEANGGOTAAN

Anggota Nulis Aja Community adalah pendiri, pengurus, serta mereka yang terdaftar secara resmi sebagai anggota setiap periodenya dengan menyepakati syarat dan tata tertib yang berlaku.

Anggota Nulis Aja Community memiliki hak dan kewajiban yang akan diatur lebih lanjut dalam pasal tersendiri.

Keanggotaan didasarkan atas kesadaran, kerelaan dan kesungguhan untuk ikut berperan aktif dalam kegiatan Nulis Aja Community. Penerimaan dan pemberhentian anggota ditentukan oleh musyawarah pengurus dan pendiri dengan memperhatikan usul dan saran dari anggota yang lain. Mulai dan berakhirnya keanggotaan diarsipkan dalam Daftar Anggota Nulis Aja Community.

Disamping keanggotaan yang dimaksud Nulis Aja Community menerima anggota luar biasa. Yang dimaksud anggota Luar Biasa ini adalah :

Tentor, guru tamu, atau pihak lain yang berkontribusi dalam kegiatan Nulis Aja Community dan disahkan dalam musyawarah pengurus dan pendiri.

·       Anggota Luar Biasa tidak mempunyai hak suara dalam musyawarah dan tidak mempunyai   hak pilih maupun memilih menjadi pengurus. 

·         Anggota Luar Biasa dapat duduk di dewan penasehat dan pembina.

·         Anggota Luar Biasa dapat menyampaikan usulan demi kemajuan komunitas.


HAK DAN KEWAJIBAN ANGGOTA

Setiap anggota mempunyai hak :

1.       Mendapatkan bimbingan materi tentang pembuatan outline, teknis menulis, editing, serta         persiapan menerbitkan buku secara gratis.

2.       Mendapatkan testimoni dari pendiri, pengurus, dan mentor.

3.       Mendapatkan bimbingan dan konsultasi selama proses penerbitan buku.

4.    Menggunakan media online sebagai alat mempromosikan tulisan, sinopsis calon buku, dan   buku yang telah diterbitkan.

5.       Mendapatkan reward sesuai aturan yang berlaku.

6.       Memilih dan dipilih sebagai pengurus.


Setiap anggota masing-masing kelompok mempunyai kewajiban 

1.       Menjunjung tinggi nama baik dan kehormatan Nulis Aja Community

2.       Menulis draft buku sesuai tata tertib pembelajaran dan kesepakatan penulisan buku

3.       Mematuhi tata tertib pembelajaran dan penggunaan media Nulis Aja Communit

4.      Memberikan komentar, like, dan membagikan pesan dari fanpage, instagram, dan web Nulis    Aja Community.

5.      Melaksanakan tantangan yang diberikan.

6.     Menerbitkan buku pada penerbitan yang berafiliasi dengan Nulis Aja Community.

7.    Mempromosikan atau membagikan postingan tentang buku karya keluarga besar Nulis Aja     Community, meliputi pendiri, pengurus, mentor, serta anggota.

8.    Mengapresiasi karya mentor dan saling membeli karya sesama anggota.


SERI - Pemakaian Huruf Bagian 1


Hai-hai semua, kali ini Nulis aja punya contet menrik nih tentang PUEBI yang akan d uodate setiap hari senin, namanya SERI alias Senin Belajar EBI. jadi mulai sekarang follow akunnya Nulis Aja Community, Fanspage di FBnya juga jangan lupa dan tentunya Blognya juga dong.

1. Huruf Abjad

Sebelum masuk ke Hal-hal yang sedikit memusingkan kita harus tau nih ya huruf-huruf abjad yang dipakai dalam bahasa Indonesia. Abjad yang digunakan ada 26 huruf. A, B, C, D, E, F dan seterusnya sampai Z. inget ya kita pakai Alfabet ABC bukan pake huruf Hangeul. beda itu mah hahaha


Catatan : 
PUEBI 2015 menambahkan kolom "Pengucapan" yang dilengkapi diakritik.



2. Huruf Vokal

Huruf yang melambangkan vokal dalam bahasa Indonesia terdiri atas lima huruf, yaitu a, e, i, o, dan u.

Keterangan:
* Untuk pengucapan (pelafalan) kata yang benar, diakritik berikut ini dapat digunakan jika ejaan kata itu dapat menimbulkan keraguan.

a. Diakritik (é) dilafalkan [e]. Misalnya:
  • Anak-anak bermain di teras (téras).
  • Kedelai merupakan bahan pokok kecap (kécap).
b. Diakritik (è) dilafalkan [ɛ]. Misalnya:
  • Kami menonton film seri (sèri).
  • Pertahanan militer (militèr) Indonesia cukup kuat.
c. Diakritik (ê) dilafalkan [ə]. Misalnya:
  • Pertandingan itu berakhir seri (sêri).
  • Upacara itu dihadiri pejabat teras (têras) Bank Indonesia.
  • Kecap (kêcap) dulu makanan itu.
Catatan: 
PUEBI 2015 menambahkan informasi pelafalan diakritik é (taling tertutup), è (taling terbuka), dan ê (pepet). Pedoman ejaan sebelumnya hanya mencantumkan tanda aksen (′).


3. Huruf  Konsonan

Huruf yang melambangkan konsonan dalam bahasa Indonesia terdiri atas 21 huruf, yaitu b, c, d, f, g, h, j, k, l, m, n, p, q, r, s, t, v, w, x, y, dan z.

Keterangan:
* Huruf q dan x khusus digunakan untuk nama diri dan keperluan ilmu. Huruf x pada posisi awal kata diucapkan [s].


Catatan:
  1. PUEBI 2015 menghilangkan keterangan "Huruf k melambangkan bunyi hamzah" dengan contoh "rakyat" dan "bapak".
  2. Empat konsonan (c, q, x, dan y) tidak digunakan di posisi akhir kata dasar bahasa Indonesia. Konsonan y bisa terletak di akhir, tetapi dalam bentuk gabungan huruf konsonan sy, misalnya pada arasy.


Sumber : https://ivanlanin.github.io/puebi/


#PUEBI #KBBI #bahasaindonesia #igers #instadaily #penulisindonesia #blogger #nulisajacommunity #belajarBahasaIndonesia 

Belajar PUEBI di SeRI (Senin BelajaR PUEBI)



Hal yang perlu diperhatikan seorang penulis baik pemula maupun yang sudah mahir adalah EYD(Ejaan Yang Diisempurnakan) atau saat ini sudah berubah menjadi PUEBI(Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia) karena dengan menggunakan PUEBI yang baik tentu saja akan membuat tulisan semakin nyaman dibaca. Pada tahun 1947, bahasa Indonesia menggunakan sistem Ejaan Soewandi, kemudian sistem Ejaan Melindo pada 1959, dan EYD (Ejaan yang Disempurnakan) pada 1972 hingga 2015. 

Ada tiga hal perubahan yang terjadi pada PUEBI. Perubahan tersebut meliputi penambahan huruf diftong, penggunaan huruf tebal, serta penggunaan huruf kapital.

Huruf diftong yang ditambahkan ke PUEBI adalah ‘ei’. Penambahan ini, menurut Kepala Bidang Pemasyarakatan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Indonesia, Drs Mustakim, M.Hum, terjadi karena bahasa Indonesia banyak menyerap istilah dari bahasa asing, sehingga kini ada empat diftong dalam bahasa Indonesia yakni ai, au, ei, dan oi.

"Diftong ‘ei’ ditambahkan karena bahasa Indonesia menyerap kosakata dari berbagai bahasa asing dan banyak istilah asing tersebut yang pakai ‘ei’, seperti pada kata ‘survei’. Jadi, sudah seharusnya diftong ini diserap," ujarnya.

Selain diftong, perubahan juga terjadi pada penggunaan huruf tebal. Penggunaan huruf tebal ini belum diatur pada ejaan bahasa Indonesia sebelumnya. Pada PUEBI, huruf tebal ini dipakai untuk menegaskan bagian tulisan yang ditulis miring serta untuk menegaskan bagian-bagian karangan, seperti judul buku, bab, atau subbab.

"Dulu belum diatur penggunaan huruf tebal. Sekarang di PUEBI sudah diatur. Digunakan untuk dua hal. Untuk judul atau sub-sub pada sebuah teks dan digunakan untuk menegaskan pada sebuah tulisan atau istilah yang telah dimiringkan," jelas Mustakim.

Perbedaan PUEBI dengan EYD yang terakhir terletak pada huruf kapital. Pada ejaan bahasa Indonesia sebelumnya tidak diatur bahwa unsur julukan ditulis dengan awal huruf kapital. Kini, aturan tersebut terdapat pada PUEBI.

Nah mau tahu lebih banyak kan tentang PUEBI ini, jangan sampai ya kelewatan pelajaran PUEBI dari tim Nulis Aja Community setiap hari seninnya di program SenI alias Senin PUEBI. Kita akan belajar sama-sama tentang PUEBI.
© Sanggar Caraka
Maira Gall