Kamis, 01 November 2018

(Part 2) Kelas Malam Minggu Bareng Daruz Armedian: Proses Kreatif Menulis Cerpen dan Puisi

Baiklah sesuai janji, berikut saya lanjutkan kembali hasil rekap obrolan kelas Malam Minggu Bareng Daruz. Langsung aja.

Simak yuk.

***

[27/10, 20:43] Hiday Nur:
Aku mau nanya juga ya Ruz. Tadi kamu dah banyak cerita tentang proses nyerpen. Kalo puisi gimana? Panutanmu siapa aja?

[27/10, 20:44] Daruz Armedian:
Sejauh ini masih Ahmad Yulden Erwin.

***

[27/10, 20:43] ‪Ferida Zuriana‬:
Kak tanya, saya punya kesulitan kalau buat cerpen itu seringkali banyak deskripsi daripada isi cerita. Gimana cara buat cerpen yang baik, isi ceritanya dapet tanpa kepanjangan deskripsinya dan membuat pembaca mudah memahami apa yang ingin disampaikan.

__________________________________________
Untuk Kak Ferida Zuriana, semoga bener ya aku baca namanya. Karena di WhatsApp tulisan namanya menggunakan huruf Katakana Jepang. ๐Ÿ˜…
___________________________________________

[27/10, 20:46] Daruz Armedian:
Oh ya. Ini biasanya memang penyakit yg menjangkiti para pemula. Seperti aku juga. Biasanya, orang seperti kita ini kalo nulis cerpen ingin seeeeemuuaaanya diceritakan. Contohlah, untuk menulis Budi telat berangkat ke sekolah. Tapi yang kita tulis adalah, Budi bangun tidur, cuci muka, gosok gigi, sarapan, mandi, dll.

[27/10, 20:47] Daruz Armedian:
Untuk menanggulangi itu, kita perlu sadar dulu kalo cerpen itu cerita pendek. Alur waktu harus diringkas.

[27/10, 20:48] MS Wijaya:

Nah iya banget, kadang nulis serasa harus secara lengkap setiap kegiatannya.
Tapi pasti akan ngbosenin ceritanya. Kebanyakan deskripsi gitu.
Triknya gmn??

[27/10, 20:51] Daruz Armedian:
Aku belum menemukan trik lain selain membaca cerpen orang lain yang kuanggap maestro.

***


[27/10, 20:48] Hiday Nur:
Ruz ada yg titip tanya nih:
Nitip tanya ke Om Daruz, 
1. Apa yang bisa sangat om daruz harapkan dari tulisan-tulisan?

[27/10, 20:50] Daruz Armedian:
1. Bisa menyelamatkan hidupku sampai tua. Heuheu. Sedih lho kalau nanti tua dan sudah tidak sanggup bekerja dan harus kesepian karena ditinggal merantau anak-anaknya dan kita tidak bisa apa-apa. Bahkan tak bisa menulis.

[27/10, 20:48] Hiday Nur:
2. Apa jadinya ketika tulisan-tulisan itu tidak dapat memenuhi harapan penulisnya?

[27/10, 20:50] Daruz Armedian:
2. Ya sudah. Dibiarkan saja. Lha wong nyatanya bahasa itu rapuh kok. Kata-kata tidak mampu menanggung semua beban atau harapan penulisnya. Palingan hanya sedikit bisa menampungnya.

***

[27/10, 20:52] Hiday Nur:
Oke ada lagi yg titip tanya.
Tanya:
Bagaimana cara/teknik Daruz mengeksplore point of view versi Daruz sendiri?
Karena keren caranya memandang sesuatu, lalu dijadikan sesuatu.

[27/10, 20:54] Daruz Armedian:
Ya itu awalnya persoalan kesulitan melanjutkan cerita aja. Sebagai contoh, aku kesulitan melanjutkan cerita dengan sudut pandang Si Pemetik Anggur. Maka, di sub kedua, atau setelah jeda, aku menggunakan sudut pandang Si Anggur itu. Tapi lama-lama aku suka caraku yang seperti ini.

***


[27/10, 20:55] NAC Nissya:
Malam Kak. Aku ada beberapa pertanyaan nih. Gpp ya borong. Semoga bisa dijawab semua.

1. Tadi belum perkenalan mengenai kegiatan saat ini. Dari Mba Hiday aku mendengar bahwa Kakak seorang editor, redaktur, dan kontributor. Ini di mana sajakah?  Lalu bagaimana prosesnya bisa sampai ke sana? Menjawabnya boleh dalam bentuk cerita atau menulis essai kok ๐Ÿ˜


[27/10, 20:59] Daruz Armedian:

1. Kalau editor masih freelance. Kalau proofread, atau pemeriksa aksara, aku di penerbit Basabasi Yogyakarta (bagian dari Diva Press). Redaktur di nyonthong.com (media online berbayar, cerpen dan puisi). Sekarang web ini untuk sementara berhenti dulu. Sekarang ngurusin web tubanjogja.org.

Prosesnya, aku nerbitin buku di Basabasi, awalnya. Kemudian kenal bosnya. Kemudian diajak kerja di situ. Sebelum ini sih aku sudah kenal bosnya di kampus fiksi. Dia rektor di kampus itu.


[27/10, 20:55] NAC Nissya:

2. Dari dua kardus buku yang diberikan. Buku mana yang benar-benar menyadarkan bahwa, saat itu "gue mau nulis"? Alasannya apa? Sebutin satu buku aja, Kak.

[27/10, 21:00] Daruz Armedian:

2. Buku laskar pelangi. Udah itu aja sih waktu itu. Pengen jadi Lintang-nya. Wkwk

[27/10, 20:55] NAC Nissya:

3. Dari buku-buku yang disebutkan tadi. Buku-buku ekstrimis kanan dan kiri. Mana yang menjadi warna tulisan saat ini?  Kenapa merasa lebih nyaman untuk menulis genre tersebut? 

[27/10, 21:02] Daruz Armedian:
3. Secara pengaruh besar di tulisan gak ada. Tp pola pikir, iya. Aku jadi bisa memaklumi pemikiran yang berasal dari poros kanan dan poros kiri.

[27/10, 20:55] NAC Nissya:

4. Oiya, aku udah baca cerpennya yang berjudul "Bagaimana Kalau Kita Saling Membunuh Saja" ...Ini gila sih, tapi keren. Dapet ini nulis cerita ini dari mana? Dan apa yang dibayangkan ketika menulis ini? Pesan apa yang sebenarnya ingin di sampaikan?

[27/10, 21:02] Daruz Armedian:

4. Ini berasal dari bacaan filsafat sih. JJ. Rosseau. Homo homini lupus.

[27/10, 20:55] NAC Nissya:

5. Biasa menulis resensi dan esaai di mana, Kak?  Boleh minta link-nya? Siapa tahu bisa berkunjung. 

Terakhir. Semoga dua novel yang sudah sampai pertengahan itu segera rampung.


[27/10, 21:03] Daruz Armedian:
5. Kalau resensi kecil-kecilan ada di Instagram. Ada juga di tubanjogja.org. Aku jarang nulis resensi. Soalnya fokusku gak di situ.

[27/10, 21:10] Daruz Armedian:
Untuk gaya bahasa, aku terpengaruhi Roberto Bolano. Penulis Amerika Latin. Yang gayanya frontal banget menurutku.

***

[27/10, 21:04] Dymar Mahafa:
1. Bagaimana cara seorang penulis pemula supaya dia akhirnya bisa memunculkan gaya unik dari tulisannya/ ciri khasnya? Apa yang sebaiknya menjadi pembiasaan di awal untuk memunculkan itu?

[27/10, 21:06] Daruz Armedian:
1. Penulis pemula tidak mungkin punya gaya unik, atau yang khas dengan dirinya. Kalaupun ingin seperti itu, kebanyakan berakhir di 'tidak bisa menulis', karena terlalu banyak mikir. Baca sebanyak-banyaknya, nanti akan ada yg khas dari gaya bahasamu. Kata Luis Borges kan, di dunia ini gak ada yang berangkat dari kekosongan.

[27/10, 21:04] Dymar Mahafa:
2. Jika diberi kesempatan, apa yang pengen kamu ubah dari sistem pendidikan di Indonesia (dari sudut pandang penulis)? Dan mengapa?

[27/10, 21:08] Daruz Armedian:
2. Mewajibkan siswa baca fiksi. Fiksi memang tidak bisa mengubah tatanan masyarakat secara frontal. Tapi ia bisa mengubah pola pikir secara perlahan.

[27/10, 21:04] Dymar Mahafa:
3. Apa harapan dan pesan kamu buat para penulis pemula se-nusantara?

[27/10, 21:09] Daruz Armedian:
3. Bertindak walaupun sedikit daripada ingin berbuat banyak tapi tenggelam dalam angan-angan yang besar (KH. Zainal Arifin Thoha).

[27/10, 21:12] Daruz Armedian:
Selama ini sih kalimat itu yg jadi pegangan. Soalnya kebetulan beliau yg ngasuh Komunitas Kutub.

[27/10, 21:09] Hiday Nur:
Artinya, selama dia masih kebingungan mencari khas dirinya, dia berarti masih kurang jam terbang dalam membaca dan masih pemula?
Apa yg mengubah seorang penulis pemula menjadi layak disebut tidak pemula?

[27/10, 21:11] Daruz Armedian:
Secara garis besar, setiap orang adalah pemula. Dalam hal apa pun.

***


[27/10, 21:17] ‪Akbar Maulana‬:
Mohon izin bertanya. Saya akbar. 
Kak Daruz, apa yang kak Daruz dapat dari balai bahasa Yogyakarta? Materi dari Eko Triono dan Indra T.
Terima kasih.

[27/10, 21:19] Daruz Armedian:
Ya, gitu. Pesannya kalau disimpulkan: membacalah seperti kau mengormati ibumu. Menulislah seperti menghormati ayahmu. Artinya, membaca tiga kali. Menulis sekali.

[27/10, 21:19] Daruz Armedian:
Wkwkw

___________________________________________
Kak Daruz "wkwk"-nya nggak pernah ketinggalan, ya ๐Ÿ˜ƒ
___________________________________________

[27/10, 21:20] ‪Akbar Maulana‬:
Ada pengaruh kepada tulisan kak Daruz tidak?

[27/10, 21:21] Daruz Armedian:
Ada. Eko Triono pernah bilang, bukan tentang siapa yang memulai menulis. Tapi tentang siapa yang akan terus menulis.
Ini kupegang erat lho.

[27/10, 21:21] Daruz Armedian:
Kalau pak Indra, mengajari kesabaran bagaimana berproses.

***

[27/10, 21:19] MS Wijaya:
Selain dunia literasi, apa yg digemari kak Daruz?

[27/10, 21:19] Daruz Armedian:
Game.
Game hari ini masih mobile legends. Belum ke AOV.

[27/10, 21:23] ‪Akbar Maulana:

Tidak menjadi candu kak?

[27/10, 21:24] Daruz Armedian:
Sejauh ini nggak. Aku gak terlalu terobsesi untuk meningkatkan level di dalam game.

[27/10, 21:23] ‪Akbar Maulana:

Aku harap opini menular dalam diriku. Biar game gak jadi candu bagiku.

[27/10, 21:23] ‪Akbar Maulana:

Waktu dulu sempat diskusi di tempat sebelah, kak Daruz pernah menulis cerpen tribute untuk Eko seperti Dea Anugrah kalo gak salah. Kenapa bisa? Hehhe.

[27/10, 21:28] Daruz Armedian:
Ya, aku merasa utang budi pada keduanya. Aku awal-awal banyak niru gaya bahasa mereka di dalam cerpen.

***


[27/10, 21:22] ‪Putri Mawadah:
Permisi. Saya juga mau nanya dong, hehe.
Apa yang membuat Kak Daruz tetap menulis sampai saat ini?

____________________________________________

Walau pertanyaan serupa sudah dijawab Kak Daruz di awal obrolan, tapi tetep lho dilayani jawabannya. Orang baik. ๐Ÿ˜Š

Oh ya, beberapa dari teman-teman banyak yang baru ditambahkan ke grup, sehingga cukup banyak obrolan penting yang terlewatkan oleh mereka yang baru nimbrung. Itu jadi salah satu penyebab dari repetisi pertanyaan.
____________________________________________

[27/10, 21:22] Daruz Armedian:
Nggak tau put. Ya kosong aja rasanya kalo gak nulis.

[27/10, 21:23] Daruz Armedian:
Tapi memang ada sih keinginan untuk menjadi penulis, sejak SMA keinginan ini muncul.

[27/10, 21:25] ‪Putri Mawadah‬:
Apa Kak Daruz sudah merasakan menjadi penulis?

[27/10, 21:25] Daruz Armedian:
Kadang, sudah. Kadang, belum.

***


[27/10, 21:26] NAC Nissya:
Kak, sesuai tema hari ini. Bagi-bagi tips dong bagaimana proses kreatif menulis cerpen dan puisi.
Selain banyak membaca cerpen dan puisi itu sendiri.

[27/10, 21:28] Daruz Armedian:
Awalnya niru-niru gaya orang lain menulis cerpen. Juga puisi. 

[27/10, 21:29] NAC Nissya:

Semacam ATM yaa...

[27/10, 21:29] Daruz Armedian:
Iya. Nah, itu.๐Ÿ˜

____________________________________________

Bagi teman-teman yang ingin mengulik lebih jauh tentang apa itu ATM dalam ilmu kepenulisan, silakan klik tautan di bawah ini, ya: ๐Ÿ˜Š
Apa itu ATM?
___________________________________________

***


[27/10, 21:30] MS Wijaya:
Eh kali ini aku mau tanya serius.

Kan biasa nulis cerpen dan puisi. Berarti kan biasa nulis yang pendek-pendek. Tadi bilangnya Kak Daruz sedang garap proyek Novel. Sempat kelabakan nggak sih??

Kan ibaratnya kalau puisi itu nafasnya pendek, sedang novel itu panjang.

Soalnya aku ngalamin untuk novel aku yg di garap saat ini, semacam kehabisan nafas. 

Soalnya kan Novel panjangnya 30.000 kata lebih..

Ada triknya nggak??

[27/10, 21:32] Daruz Armedian:
Iya. Kelabakan betul. Terbiasa menulis dg alur yg singkat, kemudian beralih ke alur yg panjang itu susah banget. Satu bab itu udah pengen banget ngakhirin.

[27/10, 21:32] Daruz Armedian:
Belum ketemu triknya. Soalnya ini juga belum selesai.

***

[27/10, 21:30] ‪N. Gilang‬:
Tanya dong. Kan sekarang lagi marak banget ekranisasi baik itu novel maupun puisi, apakah ekranisasi yang  hanya mengambil "Piece" tertentu adalah bentuk writerpreneur atau hanya sekadar kapitalisasi sastra? Ingin tahu sudut pandang praktisi sastra ๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š

[27/10, 21:33] Daruz Armedian:
Kapitalisasi tentu ada ya. Di bagian mana pun. Ya boleh jadi begitu.

[27/10, 21:34] Daruz Armedian:
Tapi ada juga yang gak begitu.

***

[27/10, 21:36] ‪Akbar Maulana:
Kak, nyonthong.com itu menerima naskah yang seperti apa? Apa yg membedakan dari media lain mungkin?

[27/10, 21:37] Daruz Armedian:
Sama sih. Hanya saja tayang tiap hari.

[27/10, 21:37] Daruz Armedian:
Untuk sekarang libur dulu.

***

[27/10, 21:37] MS Wijaya:
Kak Daruz, aku sering dapet curhat dari teman sesama penulis pemula yang suka pesimis dengan tulisan mereka. Padahal menurutku tulisan mereka udah bagus.

Ada nggak sih tipsnya agar kita lebih confident dengan tulisan kita sendiri?

[27/10, 21:39] Daruz Armedian:
Aku pun begitu. Setiap yang kutulis awalnya bagus, tiba-tiba kubaca di hari depan, jadi terasa jelek. Apalagi kalo baca tulisan orang lain yang bagus banget. Ya, yang bisa kulakukan adalah menulis terus.

[27/10, 21:39] Daruz Armedian:
Dengan menulis terus, yang kita banggakan bukan tulisan kita. Tapi proses kita dalam menulis.

[27/10, 21:41] Daruz Armedian:
Tapi ya kalo di sudut pandang yang lain: gak ada yang boleh kita banggakan dari diri kita yang hina ini. Wqwq

[27/10, 21:45] Dymar Mahafa:
Ada yang pernah bilang: kalo ngerasa kurang sreg sama tulisan lama, itu artinya kak Daruz makin naik kelas.
Mungkin temen2 di sini juga ngrasain hal yg kurang lebih sama.
Dan lebih bagus lagi kalo dibarengi dengan niatan untuk berbenah.

[27/10, 21:46] Daruz Armedian:
Banyak yg mengalami itu. Tos dulu.

***

[27/10, 21:42] ‪Putri Mawadah‬:
Menurut Kak Daruz penting gak sih menyelipkan humor ke dalam cerita?

[27/10, 21:44] Daruz Armedian:
Tergantung sih put. Kalo Jokpin, Gunawan Tri Atmojo, pastilah menjawab penting. Raditya Dika pastilah menjawab sangat sangat penting. Tapi, Sapardi atau Gunawan Muhammad, tentulah akan beda menjawabnya.

[27/10, 21:45] Daruz Armedian:

Soalnya kadang ada cerita yang gak perlu dikasih humor. Kalaupun dikasih, nanti malah mengganggu. Ada juga cerita yang wajib dikasih humor.

[27/10, 21:45] ‪Putri Mawadah:
Kalau Mas sendiri, gimana?

[27/10, 21:46] Daruz Armedian:
Belum penting, put. Rata-rata tulisanku gak ada yg bahagia. Atau yg bikin ketawa.

[27/10, 21:47] Daruz Armedian:
Kalo kumasukin humor, jadi aneh.

[27/10, 21:47] Hiday Nur:
Ada kok. Buatmu enggak. Buatku sebagai pembaca, iya.

[27/10, 21:47] Daruz Armedian: ๐Ÿ™ˆ

____________________________________________
Dia tersipu-sipu malu rupanya... ๐Ÿ˜
____________________________________________

***

[27/10, 21:46] NAC Dita Dyah:
Mas Daruz, punten baru masuk kelas.
Gimana sih caranya bikin feel kuat lewat tulisan? Apakah harus mendayu-dayu?

[27/10, 21:47] Daruz Armedian:
Pernah baca tulisan yang feel-nya kuat? Di mana? Punya siapa?

[27/10, 21:50] Daruz Armedian:
Tulisan kuat feel-nya itu kadang tergantung pembacanya kok. Pas kita lagi sedih, terus baca tulisan yang sedih-sedih, biasanya akan muncul kalimat: ih, ini aku banget yaaaa. 

Padahal tulisan itu pas kita baca dalam keadaan bahagia: loh, kok gini banget ya tulisannya. Alay deh.

Nah, jadi siapa yg ngasih feel? Aku kira masih pembacanya sih.

[27/10, 21:52] NAC Dita Dyah:
Mau nanya lagi, kok mas Daruz bisa nulis puisi secara bertingkat kronologisnya?

[27/10, 21:54] Daruz Armedian:
Berangkat dari keterbiasaan nulis cerpen.

[27/10, 21:55] NAC Dita Dyah:
Wah luar biasa, jadi bisa belajar dari cerpen ya yang kronologisnya bertingkat?

[27/10, 21:56] Daruz Armedian:
Nulis cerpen kan belajar berbahasa yang runtut. Punya alur gitu minimal.

***

[27/10, 21:50] MS Wijaya:
"Sastrawan melawan bahasa-bahasa yang lalu. Lalu mereka menciptakan (bahasa) hal yang baru."
Sebagai seorang penulis dan editor Kak Wqwq setujukah dengan pernyataan tersebut?

[27/10, 21:52] Dymar Mahafa:
Kak Wqwq? ๐Ÿคฃ

__________________________________________
Kenapa kak Daruz dipanggil dengan sebutan "kak Wqwq" oleh Bang Iyan? Ini sejarahnya panjang. ๐Ÿคฃ 
Kulik penjelasannya di sini:
Bonus (Part 3) : Obrolan Retjeh Kelas Malam Minggu Bareng Daruz
_________________________________________

[27/10, 21:53] Daruz Armedian:
Gak harus setuju sih. Ada sastrawan yang memakai bahasa apa yg ada di KBBI. Sastrawan yg membuat bahasa baru sih malah sedikit, menurutku.

***

[27/10, 21:50] ‪Putri Mawadah‬:
Nanya lagi deh ๐Ÿคฃ, Kak Daruz ini dalam sehari biasanya membaca berapa halaman dalam satu buku? Emm.. masuk ke tipe yang sekali baca udahan, atau yang bacanya lama karena lama di memahami isi buku?

[27/10, 21:51] Daruz Armedian:
Yang kewajiban, lima buku sebulan. Soalnya ini bagian dari kerja. Proofreader.๐Ÿคฃ๐Ÿคฃ
Yang gak kewajiban, gak tentu sih. Ya sebulan pasti adalah. Tapi ya gitu, kadang males banget.

[27/10, 21:52] Daruz Armedian:
Tergantung bukunya: ada buku yg pengen banget kuselesaiin sekali duduk. Ada yang berbulan-bulan. Wqwq.

[27/10, 21:53] Hiday Nur:
Kamu bacanya buku genre apa aja, Ruz? Beberapa bulan terakhir ini khususnya?

[27/10, 21:54] Daruz Armedian:
Sejarah mbak. Sapiens, Homo Deus.

***

[27/10, 21:57] MS Wijaya:
Kalau puisi nulisnya tergantung mood nggak Kak Wqwq??

[27/10, 21:59] Daruz Armedian:
Iya. Wkwkwkwk. Tapi ada yg gak sih. Ada tulisan yang kupaksakan walau gak mood.

***

[27/10, 21:56] Hiday Nur:
Oiya aku mau nanya agak Out Of Topic dong. Musik dan film.

[27/10, 21:58] Hiday Nur:
Bicara musik. Kamu orangnya musikal kan ya. Seberapa banyak musik kasih inspirasi atau sumbangan apapun buat tulisanmu?

[27/10, 21:59] Hiday Nur:
Film? Begitu jugakah?

[27/10, 22:00] Daruz Armedian:
Lagu-lagu star and rabbit. Ada puisi-puisiku yg terinspirasi dari klip lagu. Terakhir di koran tempo. Aku angkat dari klip Alan Walker, Faded.

[27/10, 22:01] Hiday Nur:
Hmm... Kamu musikal sejak di kampung dulu?

[27/10, 22:02] Daruz Armedian:
Iya. Awal-awal malah nulis lagu dulu. Wqwq. Ngakak.

***

[27/10, 22:00] MS Wijaya:
Rekom film dong Kak Wqwq ๐Ÿ˜‚....

[27/10, 22:00] Daruz Armedian:
Film, into the wild, bagus.

[27/10, 22:01] Dymar Mahafa:
Into the wild, berkisah tentang apa kak?

[27/10, 22:01] Daruz Armedian:
Tentang orang yg putus asa sama masyarakatnya. Ia pergi ke alam liar. Membakar uangnya dan barang-barang yg lainnya.

[27/10, 22:03] Dymar Mahafa:
Hm.. mirip sama buku berjudul "The Monk Who Sells His Ferarry". Mungkin hanya beda inti konflik.

[27/10, 22:03] Daruz Armedian:
Iya betul.

[27/10, 22:02] Daruz Armedian:
https://youtu.be/cl4cLEToPfc
Ini salah satu lagu di into the wild.

[27/10, 22:03] Daruz Armedian:
33, film dari Chile. Itu juga bagus.

[27/10, 22:03] Daruz Armedian:
Atau perfume. Film Prancis. Diangkat dari novel. Ini bagus banget.

***

[27/10, 22:03] MS Wijaya:
Kalau nulis puisi, tuangkan yg ada dikepala dulu. Diksi diolah kemudian.
Atau keduanya langsung?

[27/10, 22:04] Daruz Armedian:
Keduanya langsung. Apalagi kalau menemukan momen puitik.

[27/10, 22:04] MS Wijaya:
Sambil buka-buka KBBI kah?

[27/10, 22:05] Daruz Armedian:
Jarang sih

[27/10, 22:06] MS Wijaya:
Rima menurut Kak Daruz Armedian⁩ penting nggak dalam berpuisi?

[27/10, 22:06] Daruz Armedian:
Nggak terlalu. Soalnya, kalo mengejar rima, biasanya malah terkesan memaksakan bahasa.

***

[27/10, 22:07] ODOP Sakifa:
Katanya ada kecenderungan orang yang bisa jadi editor sulit jadi penulis yang baik. Begitu juga sebaliknya. Tapi Daruz Armedian⁩ bisa jadi keduanya sekaligus.

[27/10, 22:08] Daruz Armedian:
Iya. Ini pertanyaan yg bagus. Semenjak jadi editor, jadi mikir-mikir mau nulis. Jadi ngerasa, lho ini bagusnya gini, ini harusnya gini. Pokoknya mikirnya lama kalo mau nulis. Tapi kemudian, ya kan aku pengen nulis sesukaku. Akhirnya, ya tetep nulis.

[27/10, 22:10] MS Wijaya:
Berarti saat nulis memposisikan diri sebagai penulis. Saat menyunting jadi editor gitu...
Wahww daebak.. ๐Ÿ‘๐Ÿผ๐Ÿ‘๐Ÿผ๐Ÿ‘๐Ÿผ

[27/10, 22:11] Daruz Armedian:
Iya mas. Kalo posisi jadi editor, nulisnya gak jadi-jadi.

***

[27/10, 22:12] Hiday Nur:
Tulisanmu terbaca spontan. Kukira memang begitu prosesmu menulisnya? Atau itu sebenarnya proses panjang mikirnya tapi terbaca seperti spontan?

[27/10, 22:13] Hiday Nur:
Udah habis itu kalimat penutup deh.

[27/10, 22:14] Daruz Armedian:
Oh, spontan nulisnya ya? Ya dong pun. Pertanyaannya juga spontan.

[27/10, 22:15] Daruz Armedian:
Tapi kayaknya jarang ada salah ketik ya mbak tulisanku? Wqwq.

[27/10, 22:15] Hiday Nur:
Hih mulai songong๐Ÿ˜‚๐Ÿคฃ

[27/10, 22:15] Daruz Armedian:
Ya dong yaaa. Terbiasa jadi pemeriksa aksara je.

____________________________________________
Oke, gaes. Kita udah ada di penghujung acara. Jam sudah menunjukkan pukul 22:15 WIB. Karena narasumber kita sedang terburu-buru, ada janji dengan seseorang untuk merampungkan penggarapan naskahnya. Orang sibuk, maklum.

Iya, garap naskah. Kalian kira apa? Kencan malming? Ha3x... maaf penonton kecewa. ๐Ÿคฃ
____________________________________________

[27/10, 22:17] Hiday Nur:
Ada fatwa? Petuah? Wasiat terakhir?

[27/10, 22:18] Daruz Armedian:
Jangan ah mbak. Nanti aku jadi tukang khotbah.

[27/10, 22:18] Daruz Armedian:
Yuk nulis aja.

[27/10, 22:18] Daruz Armedian:
Scribo Ergo Sum
Aku menulis maka aku ada.
(KH. Zainal Arifin Thoha)

***

[27/10, 22:19] Daruz Armedian:
Makasih ya temen-temen. Mohon maaf kalau ada salah kata atau ada soal yang belum kujawab. Terima kasih.๐Ÿ™

[27/10, 22:20] Hiday Nur:
Sama-sama Ruz. Jangan kapok ya.

[27/10, 22:20] Dymar Mahafa:
Terima kasih sekali kak Daruz atas ilmu yang begitu wqwq (#halah).
Sukses selalu. Jangan lupa makan sayur dan buah...

[27/10, 22:21] Daruz Armedian:
Makasih. Dikirimin kamu sayur dan buah kayaknya lebih enak.
____________________________________________
O-o? ๐Ÿ˜… persepsi yang cukup ambigu...
____________________________________________


[27/10, 22:21] MS Wijaya:
Gomawoo Kak Wqwq... ditunggu novelnya. Barakallah.. 
 ๐Ÿ’ƒ๐Ÿผ

[27/10, 22:23] ‪Putri Mawadah:
Terima kasih teman-teman NAC yang sudah menyediakan ruang untuk malam Mingguku. ❣
Mbak Hiday, makasih yaaaaa ๐Ÿ’• nuhun pake banget.

[27/10, 22:24] ODOP Bunda Nabhan‬: Terimakasih Mba Hiday dan mas Daruz, Malming nya bermanfaat๐Ÿ˜Š

[27/10, 22:26] ‪ODOP Anggia:
Terima kasih NAC, mba Hiday, mas Daruz
Materi kueren❤❤❤
Malam ahad berkualitas๐ŸŒŸ

[27/10, 22:39] ODOP Heru:
Terima kasih.

***
___________________________________________
Daruz pamit.
___________________________________________

[27/10, 22:21] Daruz Armedian:
Udah dulu ya.

[27/10, 22:21] Daruz Armedian:
Aku keluar apa dikeluarin ini mbak?
Kok jadi bingung.

[27/10, 22:22] Hiday Nur:
Kamu maunya keluar sendiri apa kutendang๐Ÿ˜‚

[27/10, 22:22] Daruz Armedian:
Aku keluar sendiri aja. Mandiri kok. ๐Ÿ˜˜

__________________________________________
Dan tiba-tiba Daruz bilang... ๐Ÿคฃ

Screenshot obrolan dari ponsel pribadi milik Mbak Hiday Nur.

***

Begitulah akhirnya acara kami tutup dengan ucapan syukur. Terima kasih banyak untuk Daruz Armedian dan teman-teman peserta kelas malam minggu yang telah menyempatkan waktunya untuk on-line. Semoga bisa berbincang kembali seputar kepenulisan di lain waktu, ya.

Kesimpulannya adalah bahwa sejatinya keterbatasan itu bukanlah alasan untuk kita mengeluh tidak bisa menulis. Contohnya, Daruz Armedian. Di tengah keterbatasan dan keadaan lingkungan yang kurang mendukung, Daruz tetap gigih dan terus menulis. Karena dia berpegang pada prinsipnya, dan itu yang terpenting.

Bukan untuk pamer, bukan hanya sekedar sebagai trend atau gaya-gayaan semata, dan bukan pula untuk mencari ketenaran.

Tetapi menulis adalah proses penyembuhan. Writing is a healing process. Seperti kata Daruz yang mengutip kata-kata Zizek, "Menulis menyelamatkan hidupku."

Gitu ya, gaes. Semoga dari kalian juga bisa mengambil apa yang baik untuk kemudian dijadikan sebagai motivasi/ teladan/ panutan, dan juga sebagai sarana berbenah diri. Sehingga nantinya dapat menghasilkan tulisan-tulisan yang berkualitas, dan tentunya bermanfaat untuk sesama. Amin.

Terima kasih banyak. 

Adios.

***

Special thanks to: Mbak Hiday Nur.

Postingan ini dipersembahkan untuk:
1. One Day One Post Community
2. Nulis Aja Community
3. Para pembaca blog NAC yang terkasih

(Part 1) Kelas Malam Minggu Bareng Daruz Armedian: Proses Kreatif Menulis Cerpen dan Puisi

Biarkan saya mengawali tulisan ini dengan satu pembuka dari seorang Daruz Armedian:

"Tak kenal maka tak sayang. Udah kenal gak bilang-bilang sayang."









*
*
*

Malam minggu ini (27/10/2018) kebetulan Nulis Aja Community kedatangan tamu istimewa. Kami mengundang seorang narasumber untuk berbagi pengalaman serta ilmu kepenulisan seputar proses kreatif menulis cerpen dan puisi.





Siapa guest star kita pada malam minggu yang spesial ini? Yuk, kenalan dulu.


"Daruz, cerita-cerita dulu dong tentang aktivitasmu sekarang. Sebagai mahasiswa semester 5, juga sekaligus sebagai editor, redaktur dan kontributor. Lagi nulis apa, lagi pacaran sama siapa (eh kamu pura-pura jomlo gak apa-apa malam ini)?" satu celoteh dari Rektor NAC, Mbak Hiday Nur, mengantarkan teman-teman NAC untuk mengenal narasumber secara lebih mendalam.


"Jadi editor itu berat, Mbak. Nyari kesalahan orang lain mulu." hanya sebaris kalimat itu saja yang terlontar.


Kelas kami buka tepat pukul 20:00 WIB. Ada kurang lebih 35 peserta yang hadir pada kelas on-line NAC malam ini. Ditambah narasumber menjadi 36 orang. Wah, cukup banyak ya, gaes?


Peserta tidak hanya datang dari teman-teman NAC saja. Tapi juga sebagian adalah teman-teman One Day One Post dan beberapa orang di luar komunitas. 


Berikut ini adalah hasil rekap diskusi kelas selama kurang lebih 120 menit bersama Daruz. Aku ambil yang sekiranya penting dan berbobot ya, gaes. Yang receh aku skip. Maaf banget kalau nggak bisa ter-cover semuanya.


Oh ya gaes, sedikit informasi. Daruz Armedian ini kuliah di jurusan Filsafat, lho. Jadi cara penyampaian bahasa dia sedikit berbeda dari kita.


Simak yuk.


***


[27/10, 20:11] Hiday Nur: Kapan kamu mulai pengen banget nulis? (Btw ini pertanyaan yang gak disukai Daruz, katanya.)

[27/10, 20:11] Daruz Armedian: Mulai SMA. Setelah kematian adik dan nenekku.


[27/10, 20:12] Daruz Armedian: Suka baca pas SMP. Pas dikasih buku dua kardus oleh kakakku.


***


[27/10, 20:13] Hiday Nur: Sebagai penulis pemula, apa yg kamu lakukan saat itu?

Teman2 pengen tau, kamu belajar nulis melalui proses apa dan bagaimana?


[27/10, 20:14] Daruz Armedian: Membaca buku apa saja. Soalnya, untuk menulis, tidak bisa tidak memang harus dimulai dengan membaca.


Setidaknya karena itu kita tahu bagaimana orang lain menyampaikan pendapat lewat tulisan.

***


[27/10, 20:15] Hiday Nur: Aku dengar kamu banyak belajar daring dan luring. Daring dari mana aja, luring dari siapa aja?


[27/10, 20:16] Daruz Armedian: Daring, mungkin temen-temen ada yg pernah denger Komunitas Pedas? Penulis dan Sastra? Aku banyak belajar dari situ. Sama mbak Vero.


Di KBM juga pernah ikut gabung. Tapi hanya sebagai silent reader.


Untuk luring, aku belajar di Komunitas Kutub. Pesantren menulis yg ada di Jogja.


[27/10, 20:18] Dymar Mahafa: Bisa dijelaskan lebih detail kak, tentang Komunitas Pedas dan yg lain2?


[27/10, 20:19] Daruz Armedian: Di sana diajari paling dasar dulu sih. Soal ejaan. PUEBI.


***


[27/10, 20:18] Daruz Armedian: Semua ini bermula ketika kiriman buku dua kardus datang dari kakakku. Ketika itu aku kelas 3 SMP. Sebenarnya, ini tidak menjadi perubahan yang drastis bagiku jika seandainya sejak dahulu desaku, atau kecamatanku, atau sekolahanku, menyediakan perpustakaan. Tempat-tempat yang aku sebutkan tadi tidak punya perpustakaan. Sehingga, ketika buku-buku dari kakakku datang, aku menyambutnya dengan meriah dan riang tak kepalang.

Aku menyukai bacaan, setidaknya itu bagiku sendiri. Dan hal itu bisa aku buktikan dengan Lembar Kerja Siswa yang tidak pernah kosong, penuh coretan, dan soal-soal baik dalam bentuk pilihan ganda maupun esai di dalamnya sudah banyak yang aku isi. Atau, bangganya aku ketika Ibu berbelanja dan barang belanjaan dibungkus dengan koran dan aku membacanya secara berulang-ulang. Atau, ketika perjalanan jauh, menaiki mobil atau bus, aku sering sekali membaca papan iklan di pinggir-pinggir jalan.


Ketika Kakak mengirimiku buku sejumlah dua kardus dan ketika terus menerus membacanya, aku langsung memutuskan untuk belajar menulis. Yang paling aku ingat adalah, aku menulis karena ingin bisa seperti Andrea Hirata. Aku terinspirasi dari novel Laskar Pelangi. Setelah itu aku membaca buku karangan Dewi Lestari, Ahmad Fuadi, Habiburrahman Elsyirazi, Tere Liye, Agnes Danovar, Raditya Dika, dan penulis-penulis populer lainnya. 


Beranjak ke SMA, aku benar-benar belajar menulis. Dan yang aku tulis pertama kali adalah cerpen dan novel. Itu adalah masa-masa paling sulit dalam perjalanan kepenulisanku. Aku menulis sendirian dan tentu saja tidak ada yang mengajariku. Aku buta terhadap apa pun yang berkenaan dengan kepenulisan.


***


[27/10, 20:18] MS Wijaya: Innalillahi wainnailaihi rajiun. Berarti menulis untuk pelampiasan emosi ya Kak..

[27/10, 20:18] Daruz Armedian: Waktu itu iya. Ya nulis diary aja.


[27/10, 20:21] Daruz Armedian: Semua penulis aku rasa mulai menulis pertama kali ya dalam bentuk curhat. Soalnya kemampuannya ya hanya sebatas curhat dulu. Baru kemudian beralih ke tulisan-tulisan yang lain.


[27/10, 20:22] Daruz Armedian: NB: curhat di sini bisa dalam bentuk puisi atau cerpen atau tulisan-tulisan yang lain.


[27/10, 20:22] Daruz Armedian: Kalau cerpen juga yang bentuknya curhat maksudku. Novel juga.


***


[27/10, 20:20] ‪Maratul Muflihatin‬: Kak, semua tulisan non fiksi puisi misalnya kata2 yang digunakan apakah wajib ada di KBBI?

[27/10, 20:21] Daruz Armedian: Nggak harus. Tapi sebagai pemula, kita tentu harus tahu kalau kata-kata kita ada di KBBI.


***


[27/10, 20:23] Hiday Nur: Yang kamu bilang tahun2 yg berat itu, menurutmu berapa lama kamu melewatinya?

[27/10, 20:24] Daruz Armedian: Aku menulis cerpen dan novel semauku tanpa kode etik tertentu. Ya, bisa dikatakan bukan cerpen atau novel sebenarnya. Mirip curhat. Mirip catatan harian anak-anak sekolahan sewajarnya.


Ketika tahu aku sedang gandrung sekali dengan kegiatan menulis, Kakak mengirimiku buku lagi. Satu kardus. Di situ, aku menemukan buku-buku cerpen pilihan Kompas, kumpulan puisi yang aku sudah lupa siapa pengarangnya, buku-buku kiri dan buku-buku ekstrimis kanan, buku-buku karangan Pramoedya Ananta Toer, dan buku-buku yang bagiku waktu itu lebih rumit memahaminya ketimbang novel-novel populer.


[27/10, 20:25] Daruz Armedian: Selama ada di kampung. Soalnya waktu itu benar-benar sendirian. Gak ada teman yg memberi masukan. Misalnya: kamu harus baca ini baca itu.


[27/10, 20:32] Daruz Armedian: Dari itu aku makin rajin menulis. Terutama cerpen. Mulai meniru gaya-gaya bagaimana cara orang lain menulis (aku masih ingat nama-nama pengarang cerpen yang ikuti gaya menulisnya: Agus Noor, Phutut Ea, Eka Kurniawan, Seno Gumira Ajidarma, Danarto). Meskipun ya begitu, buruk sekali. Baik secara teknis (karena tidak mengerti EBI dan kalimat-kalimat yang logis) maupun isi cerpen itu sendiri.  


Di pertengahan kelas 2 SMA, aku berhenti menulis. Itu karena aku merasa bahwa apa yang aku tulis sebenarnya sia-sia. Malah merusak nilai akademikku. Aku, baik di SD maupun di SMP, selalu rangking di kelas. Entah rangking satu, dua, atau tiga. Dan semenjak SMA, semenjak membaca buku-buku selain pelajaran, aku tidak pernah mengurusi rangking. Aku tertelan oleh dunia bacaanku sendiri. Rangkingku anjlok drastis. Aku kena marah dari orangtua. Orangtua marah karena mereka yang membiayai sekolahku. Ini tentu hal yang wajar bagiku.


[27/10, 20:35] Daruz Armedian: Sebenarnya bukan karena itu saja aku berhenti menulis. Tetapi lebih karena aku merasa menulis itu benar-benar sulit. Aku tidak punya sandaran, tidak ada orang yang mendorong, atau minimal orang yang menjadi acuanku menulis.


Di akhir kelas 3 SMA, aku mulai menulis lagi. Aku merasa di sekolahan sudah tidak punya tanggungan lagi. Tinggal menunggu kelulusan. Tinggal menunggu bagaimana aku merengkuh kebebasan.


Lalu aku berangkat ke Gresik dan bekerja sebagai penunggu warnet. Di sana, aku latihan ngetik menggunakan komputer. Dan tentu saja juga membaca tulisan-tulisan di media daring. Pada suatu waktu ketika masih di Gresik, aku mencari tahu komunitas menulis lewat Google. Di situlah aku menemukan Komunitas Kutub. Dua bulan kemudian aku berangkat ke Jogja dan bergabung dengan Komunitas Kutub, komunitas yang didirikan oleh almarhum KH. Zainal Arifin Thoha.


Di Jogja, aku seperti menemukan surga. Bacaan sangat banyak, ruang-ruang diskusi buku juga banyak. Aku menulis, membaca, menulis, membaca, sampai akhirnya tidak begitu sadar, ternyata sudah empat tahun aku di Jogja.


***


[27/10, 20:25] MS Wijaya: Apa alasan Kak Daruz tetap menulis sampai saat ini?

[27/10, 20:26] Daruz Armedian: Ada beberapa alasan. Pertama, untuk healing atau penyembuhan. Aku gak tahu ya. Tapi aku setuju perkataan Zizek, menulis menyelamatkan hidupku.


[27/10, 20:27] Daruz Armedian: Kedua, karena bisa menulis ini aku bisa jadi editor dan itu lumayanlah untuk nyambung kehidupan.


[27/10, 20:27] ‪Atikah Bakir‬: Healing?

Menarik๐Ÿ˜Š

[27/10, 20:29] Daruz Armedian: Ya. Banyak orang menulis untuk dirinya sendiri. Mungkin bisa sebagai teman ketika sendirian. Kesepian atau kondisi yang tidak mengenakkan.


***


[27/10, 20:27] Maratul Muflihatin: Karya milik kakak yg paling berkesan bagi Kak Daruz apa?

[27/10, 20:28] Daruz Armedian:

http://basabasi.co/bagaimana-kalau-kita-saling-membunuh-saja/

[27/10, 20:29] Hiday Nur: Kenapa kamu paling suka ini? Semacam transformasi dalam gaya kepenulisanmu atau kenapa?


***


[27/10, 20:28] MS Wijaya: Selama ini hanya menulis cerpen dan puisi aja kah?

[27/10, 20:30] Daruz Armedian: Akhir-akhir ini garap novel. Ada dua judul yang sampai pertengahan: "Perempuan Tak Pernah Patah Hati" Lalu, "Bagaimana Kesepian Membuatmu Mati Perlahan".


[27/10, 20:30] MS Wijaya: Berarti fokus ke genre fiksi aja...


[27/10, 20:31] Daruz Armedian: Ya. Fokusnya memang fiksi. Kalaupun nulis non-fiksi, itu untuk sampingan kalau lagi bosen sama fiksi.


[27/10, 20:32] MS Wijaya: Biasanya nulis apa kalau nonfiksi?


[27/10, 20:33] Daruz Armedian: Resensi atau esai.


***


[27/10, 20:34] Daruz Armedian: Aku usahakan untuk menulis apa pun tiap hari 200 kata (minimal). Untuk pembiasaan menulis saja. Kalau aku bingung mau nulis apa, maka aku nulis alasan kenapa aku bingung. Atau paling tidak, menulis tentang kebingungan itu.

Proses menulis ada dua tahapan. Pertama pembiasaan. Kedua peningkatan. Kalau terbiasa menulis saja belum, masa mau langsung ke tahap peningkatan?


Maksudku gini. Banyak orang kesulitan menulis hanya karena berpikir kalau ini udah ditulis orang lain. Bahasa ini udah digunakan orang lain. Atau, berpikiran kalau aku ingin menulis sesuatu yang bagus, yang belum pernah ada di dunia.


[27/10, 20:39] Dymar Mahafa: Nah, bener banget kak. Rasanya kadang bosen sama diksi pribadi.


[27/10, 20:40] Daruz Armedian: Yak betul.


***


[27/10, 20:34] MS Wijaya: Dari 2 kardus buku yang dikirimkan oleh kakaknya. Apa yang paling berkesan, dan pengen buat seorang Daruz ingin menulis?

[27/10, 20:35] Daruz Armedian: Kesedihan. Wkwkwkwk.


[27/10, 20:36] Daruz Armedian: Ya hampa aja waktu itu. Biasanya ada yg ramein hari-hariku: nenek dan adikku. Tiba-tiba mereka pergi gitu aja.


[27/10, 20:38] MS Wijaya: Kalau dari buku ada nggak faktornya yang membuat pengen nulis buku seperti itu?


[27/10, 20:38] Daruz Armedian: Secara spesifik gak ada. Atau belum ada.


***


Kemudian Daruz berbalik mengajukan pertanyaan kepada semua yang hadir di kelas, yang kemudian dijawab oleh beberapa teman-teman yang hadir. Baik banget, ya. Orangnya juga rendah hati.


[27/10, 20:41] Daruz Armedian:

Ini kalian sudah nulis apa aja nih?

***


Nah, kalau kalian gimana? Udah nulis apa aja hari ini? ๐Ÿ˜Š


***


Bersambung lagi di part 2, ya. Don't miss it. ๐Ÿ˜‰

***




Special thanks to: Mbak Hiday Nur.


Postingan ini dipersembahkan untuk:
1. One Day One Post Community
2. Nulis Aja Community
3. Para pembaca blog NAC yang terkasih

Minggu, 14 Oktober 2018

RABO - Orhan Pamuk Penulis Turki yang Meraih Nobel Sastra





Ferit Orhan Pamuk atau Orhan Pamuk adalah novelis Turki yang sangat populer dalam sastra pasca-modernis. Karya-karyanya telah diterjemahkan ke dalam lebih dari 50 bahasa dan mendapatkan berbagai penghargaan di dalam negeri dan internasional. Puncaknya, pada tanggal 12 Oktober 2006, Pamuk menggondol Nobel bidang kesusastraan atas karya-karyanya. Ia menjadi pengarang Turki pertama yang memperoleh penghargaan ini. Untuk diketahui, Nobel Sastra diberikan pada pengarang yang "karyanya paling bagus dan memiliki idealisme yang maju" dan karya ini merujuk pada keseluruhan karya si pengarang, bukan kepada karya satuan. .
.
.
Pamuk secara teratur mulai menulis sejak tahun 1974 dengan karya perdana bertajuk Karanlฤฑk ve IลŸฤฑk (Darkness and Light) yang menjadi salah satu pemenang Milliyet Press Novel Contest tahun 1979. Novel perdana ini diterbitkan pada tahun 1982 dengan judul Cevdet Bey ve OฤŸullarฤฑ (Mr. Cevdet and His Sons) dan memenangkan Orhan Kemal Novel Prize. Selanjutnya ia menulis novel-novel pemenang berbagai penghargaan seperti Sessiz Ev (The Silent House, 1983), Beyaz Kale (The White Castle, 1985), Kara Kitap (The Black Book, 1990), Yeni Hayat (New Life, 1995), dan Benim Adฤฑm Kฤฑrmฤฑzฤฑ (My Name is Red, 1998). Novel yang disebutkan terakhir di Indonesia telah diterbitkan Serambi sebagai Namaku Merah Kirmizi (2006). Novel inilah yang kian menjulangkan reputasi Pamuk di kancah literatur internasional. .
.
Ketika ditanya "Apakah pengaruh kemenangan hadiah IMPAC ini (saat ini nilainya $127.000) atas kehidupan dan karya anda?", Pamuk menjawab "Tak suatupun yang berubah dalam hidup saya karena saya bekerja sepanjang waktu. Saya telah menghabiskan 30 tahun dalam menulis fiksi. Selama 10 tahun pertama, saya kuatir tentang uang dan tak seorangpun bertanya berapa banyak uang yang saya hasilkan. Dekade kedua saya menghabiskan uang dan tak seorangpun bertanya tentang hal itu. Dan saya telah menghabiskan 10 tahun terakhir dan setiap orang ingin tahu bagaimana saya menggunakan uang itu, suatu hal yang tidak akan saya lakukan."
.
Sumber : http://sepetaklangitku.blogspot.com/2012/02/snow.html?m=1
Dan wikipedia Indonesia 

#nulisajacommunity - #Rabubio #rabo

Minggu, 15 Juli 2018

Kenapa


Oleh Hiday Nur

Kenapa…Aku bertanya tanyaLewat puisi yang tak bernamaKenapa manusia tak pernah lagi bertanya mengapaMengapa kenapa aus ditelan emosi masakesejatian ada karena bertanya kenapaMempertanyakan alasan kenapa dunia hadirMerenungi kenapa dunia menghadirkanMenginsafi kenapa bumi tak henti memutar roda kematian dan kehadiranKata mengendap dalam relung guaMemaknai kenapa yang terus berulangNamun laksana kata yang berumurKenapa, telah menjadi tua dan lanjut usiaTerlupakan dan terpinggirkanOleh gemerlap dian yang mencekik peradaban


Sumber gambar : https://id.pinterest.com/pin/561964859745039139/

Diantara Karang dan Kamu



Oleh : Wiwid Nurwidayati

Akan selalu ada airmata jika menatap birunya ombak yang menerjang karang di antara senja yang sedang memerah.  Semakin menyayat ketika senja itu di hiasi hujan dan badai laut yang membuatku ingin memutar waktu. Akankah Tuhan berbaik hati menawarkan padaku untuk memberikan satu permintaan yang akan mengembalikan kepada waktu yang ku inginkan? Namun waktu begitu cepat bergulir, pagi, siang, senja, malam, hujan, pantai dan badai.

Mungkin hanya hobi yang mempertemukan kita. Diantara kesunyian waktu yang berjalan, kita saling berbincang. Jangan pernah lupakan perkenalan kita, pertemuan di titik rapuh. Ketika itu kamu adalah seorang laki-laki perangkai kata yang sempurna menurutku. Sedang aku, kualitas tulisanku sedang sekarat, di bawah garis kemiskinan sastra. Kita bertemu di dunia maya, merangkai cerita yang sama yang mungkin akan terasa membosankan jika di tuliskan dimajalah-majalah beken sekalipun. Dan kita hanya tertawa menikmatinya.

Disuatu senja akhirnya kita bertatap muka. Di antara karang-karang terjal yang tegak berdiri dan rumput hijau yang tumbuh diantaranya. Kamu datang dengan jaket kulit coklatmu. Rambut gondrong yang menyembul di ujung topi rajut wool mu. Tubuhmu terbilang kurus, dengan kulit coklat bersih. Hingga kemudian kita lebih sering menghabiskan akhir minggu di sini. Diantara deburan ombak yang menghempas tebing. Dan lautan biru yang membentang luas di hadapan kita.

Kita duduk di bawah pohon yang daunnya sudah jatuh berguguran, ranting yang mengering. Namun tetap kokoh berdiri di tepi tebing yang curam. Satu-satunya pohon yang berdiri di tepi tebing itu. Aku hanya menatapmu waktu itu tak mengerti. Diantara deburan ombak yang menghantam batu karang kau menunggu ikan kakap melahap umpanmu, oh tidak mungkin ikan barracuda atau ikan cucut, kau habiskan waktu membaca novel itu. Ternyata aku tahu kini, novel itu yang telah membuatmu seperti sekarang. Tulisan yang semakin matang dan ide yang selalu mengalir seperti aliran sungai yang tak berhenti.

“Tulisanmu semakin keren, Kun,” ucapku padamu ketika kau melepaskan ikan cucut yang memakan umpan kailmu.

            “Aha, tulisanmu juga semakin matang,” ujarmu ringan tanpa menoleh ke arahku sedikitpun.
Senja mulai beranjak malam. Kita memutuskan untuk pulang. Menuruni jalan tanah setapak perlahan. Jalan setapak dan terjal untuk menuju tempat parkiran. Senja yang menghilang adalah awal cerita denganmu.
##
Kali ini kita tidak menghabiskan waktu di atas tebing curam. Satu malam pada sebuah pertemuan yang kupaksakan. Kau mulai sibuk dengan profesi barumu. Mengajar di sebuah universitas swasta, mengambil kelas pagi dan malam, juga kelas ekstensi di akhir minggu. Tak banyak lagi waktu bagi kita untuk menghirup aroma angin laut yang menyejukkan jiwa.

Kau paksa aku untuk mengikuti jejakmu masuk pada sebuah tenda warung kopi langgananmu.
“Dua kopi Bang,” ucapmu pada pemilik warung.

“Malam ini kau harus belajar minum kopi, disitu akan kau rasakan rasa manis di antara rasa pahit di dalamnya. Sesaplah perlahan, temukan filosopi dari kopi itu sendiri,” ujarmu padaku sebelum aku protes. Kau tahu aku lebih suka dengan susu coklat hangat. Namun mata teduhmu meluruhkan hatiku. Kata-katamu seolah perintah, yang selalu tak bisa ku bantah.

“Kopi itu seperti saat memancing ditengah lautan. Ketika kita melakukannya hanya untuk membahagiakan dan melepaskan hati kita. Mungkin terkadang badai tiba-tiba datang, namun kita tetap merasa bahagia. Diantara jantung kita yang berdegub hebat melihat air laut dan angin yang seolah sedang bersatu padu membangun kekuatan untuk menggoyahkan kebahagiaan kita.

“Ah, filosofimu terlalu tinggi Kun,” ujarku padamu sambil tertawa.

“Benar itu, suatu hari nanti akan ku ajak kau untuk menikmati badai,” ujarmu sebelum kau menyesap tetes terakhir dari segelas kopi hitam itu.

“Benarkah,” mataku berbinar mendengar janjimu. Kau hanya mengangguk.

##

Siang di minggu akhir Desember kita berkemas. Dua joran pancing andalanmu telah kau siapkan. Seember umpan yang berisi hewan laut segar pun telah siap. Ada ikan kembung, ikan tongkol, cumi, udang ataupun gurita.  Dua tenda camping tak lupa kita siapkan. Malam ini kita akan menghabiskan malam di tepi lautan sambil memancing. Malam yang pekat tanpa purnama. Katamuu ketika malam pekat tanpa purnama, ikan-ikan besar akan senang memakan umpan kita.

“Aku akan mengajakmu menikmati badai,” ujarmu diantara kesibukanmu mengemas barang.

“Kamu yakin badai datang malam ini?” tanyaku sedikit ketakutan.

“Hahahaha. Hanya intuisi seorang pemanjing. Kita akan bertemu dengan badai. Tetapi biasanya dibulan-bulan Desember atau Januari, atau bulan Maret. Bulan-bulan dimana curah hujan semakin tinggi, badai bisa datang kapan saja.”

“Kita tidak peru berlayar di tengah lautan, bukan?” tanyaku meyakinkan diri.

“Tidak. Aku tak akan membiarkanmu mati ketakutan ditengah lautan,” jawabmu serius.

Bibirku menyunggingkan senyum atas jawabanmu. Aku baru menyadari, kau yang selama ini selalu hemat kata-kata dalam berucap. Kini kau bisa panjang lebar berkata-kata, jika semuanya tentang hobi memancingmu. Melihat barang-barang yang kau siapkan sebelum memancing, aku berdecak kagum. Sepertinya tak pernah ada kata sayang menghabiskan sebagian gajimu untuk memenuhi kebutuhan memancing. Seperti saat menghasilkan tulisan, semua kau persiapkan dengan sebaik-baiknya.

Kita hampir mendekati tempat tujuan, ketika matahari sudah mulai berjalan menuju peraduanya. Jalan setapak yang sepi tanpa aspal. Kemudian berbelok kiri ke jalan sempit yang terjal, namun kau sudah terlihat begitu terbiasa melewati  jalan ini dengan variomu. Hembusan angin laut sudah membelai pipiku. Hingga kemudian sebuah pemandangan indah terbentang di depan mata.

Kita berada sekitar dua meter di atas tebing . Rumput hijau menghampar. Di ujung batas cakrawala, senja yang memerah memendarkan cahaya keemasan di laut.

“Kita ke bukit yang kecil itu,” katamu sambil menunjuk bukit kecil yang menjorok ke laut di sebelah selatan dari tempat kita berdiri. Langkah kaki kita melewati pantai berpasir putih, jalanan sedikit mendaki dan hanya jalan setapak. Hatiku sedikit menggigil ketakutan, menapaki jalan yang benar-benar hanya setapak. Setiap jengkal yang ku pijak adalah jalan penuh bebatuan licin.  Ombak menghempas tebing yang jaraknya hanya satu meter dibawah kami berjalan. Sesekali buihnya menyapa kulit kakiku.

Kau berjalan di depanku dengan tenang. Ku pegang tas ransel yang berisi peralatan memancig kita. Dua temanmu berjalan di belakangku dengan tenang. Hatiku bernafas lega ketika akhirnya kaki kita menapak puncak bukit dengan rerumputan hijau.

            Kita menghirup udara segar disini. Melepaskan segala ketegangan yang sempat ku lewati. Pemandangan alam yang sangat indah, diujung cakrawala matahari beradu dengan ujung permukaan laut. Seolah sedang berbisik dan memberi salam kepada alam jika dia hendak beristirahat untuk sementara waktu.

Kau tengok jam di pergelangan tanganmu, kita bergegas merapatkan shaft. Kita dalam sunyi, hanya deburan ombak dan angin laut yang menerbangkan ujung mukenaku seolah menjadi backsound atas kepasrahan kita dalam menghadapNya.

Kita mulai menuruni bukit mendekat ke tebing laut. Jalan setapak dengan batu karang yang agak licin. Tangan kananmu membawa joran pancing sedang tangan kirimu membawa seember hewan laut utuk umpan.

Aku duduk agak sedikit menjauh di belakangmu, malam mulai merangkak. Di langit bintang bertaburan, langit begitu cerah malam itu. Joran pancing kau selipkan di antara batu-batu karang, hingga bisa berdiri tegak tanpa kau pegang. Kemudian kau mundur dan duduk di sebelahku. Kita semua hanya terdiam, di kesunyian malam menikmati semesta.  Dalam keremangan lampu tanah kupandang wajahmu yang sedikit tirus. Ada binar kebahagiaan di sana. Inilah duniamu yang kedua, dunia rangkaian kata adalah dunia mu yang pertama.

“Aku tak tahu apakah bisa menikmati malam seperti ini lagi di sini, bersamamu,” ucapmu tiba-tiba membelah kesunyian. Namun nadanya terdegar aneh di telingaku.

“Kenapa bilang begitu?” tanyaku.

“Hanya intuisi saja. Rasanya kamu akan semakin jauh nanti.”

Aku hanya melongo mendengar pernyataanmu. Sebuah pertanyaan ku lempar padamu untuk menghilangkan rasa gundah atas pernyataanmu.

“Hmm, mengapa suka memancing?” tanyaku

“Memancing akan melatih kesabaran. Terkadang kita sudah duduk berjam-jam tetapi tidak ada satu ikan pun yang memakan umpan kita. Begitulah hidup. Seperti dalam menulis, kita pun terkadang kehabisan ide. Kita mungkin lebih sering berputus asa, ketika naskah kita berkali-kali tidak layak muat di koran atau majalah. Berkali-kali ditolak penerbit. Tetapi suatu saat nanti akan ada massa ke emasan dalam hidup kita.”

Aku mengangguk-angguk menyetujui setiap katanya.
“Juga latihan pantang menyerah di keadaan paling sulit. badai. Disana kita sekuat tenaga untuk mempertahankan diri agar selamat.”

Tiba-tiba langit berubah pekat. Kilat mulai terlihat membelah laut tanpa henti. Sungguh Indah namun sekaligu menyeramkan. Kau berjalan mendekat kearahku,  mengatakan jika kemungkinan badai sebentar lagi datang. Kita kemudian naik sebentar ke tenda mengambil mantel hujan dan segera mengenakannya.

Hujan sisertai angin kencang. Ombak semangkin kuat menghempas karang. Petir menyambar-nyambar tiada henti. Suaranya begitu menggelegar. Aku semakin menggigil di antara ketakutan dan kedinginan. Dua temanmu sudah naik ke tenda.

Kau pun mengajakku ke tenda. Umpan dan ikan yang termakan umpanmu kau bawa serta. Namun joran pancingmu yang masih tertancap di antara karang, kau tinggalkan disana.

Aku menatapmu menuruni bukit untuk mengambil joran yang kau tinggalkan di tepi tebing. Ombak tinggi, hujan lebat di sertai dengan angina kenncang menyambutmu. Siluet badanmu masih kulihat membungkuk diantara petir yang bersahut-sahutan membelah permukaan laut.

Sekedip mata, tak ku lihat bayangmu lagi. Aku terkesiap. Aku berteriak memanggil namamu. Namun suara gelegar petir mengalahkankannya. Aku masih berteriak memanggil namamu. Dua temanmu ikut turun mencarimu. Namun bayangmu tetap tak terlihat. Kau lenyap seketika.

Serak suaraku habis memanggil namamu. Airmataku luruh bersama hujan badai yang membasahi tubuhku. Aku hanya bisa tergugu.
            “Kun, dimana kau kini?”. (end)


Sumber gambar : http://weart.co/v2/wp-content/uploads/2016/05/WE_ART_LINA_EKSTRAND_10.jpg




© Sanggar Caraka
Maira Gall